Kalau Mama udah gak ada, kamu nanti sama siapa?

Kegundahan seorang ibu terhadap anak bungsunya yang tak kunjung menikah...

Sudah lama tak bergulat dengan rindu...


Anjay bahasanya bukan gue banget , pake sok-sok an bak pujangga. Udahlah nulis dengan biasa aja, nulis ala gue. Suka-suka gue.

Lain dulu lain sekarang, banyak pelajaran yang gua petik dari kejadian-kejadian di masa lalu.
Gue adalah tipe orang yang bisa melakukan apa-apa sendiri, tapi tidak bisa hidup sendiri. Dengan arti kata lain, hati gue gak bisa kosong, gue harus punya seseorang yang bisa gue banjiri dengan kasih sayang yang gue miliki (maksudnya selain keluarga), meskipun sering kali akan berakhir pada kekecewaan, tapi gue gak pernah kapok, lebay sih.. Tapi emang iya. Hati gue gak bisa kesepian, gue takut kesepian. 

Gue terlalu kesepian dari kecil. Main sendiri di rumah, karena kakak-kakak gue semua pergi merantau berdikari di ibukota maupun luar kota lainnya. Jarak umur kita terpaut sangat jauh, sehingga tidak ada ke-intiman layaknya adik kakak yang suka “beradu mulut, berebut; mainan, makanan, baju, make up, etc”.

Sungguh beruntungnya gue bisa menikmati itu semua tanpa harus berebutan, atau adu jotos, karena kakak-kakak gue yang udah kerja men-suplai apa yang dibutuhkan adiknnya. 

Gembira tapi tetap sepi...

Kata teteh, apih (bapak saya) adalah sosok yang galak, sayang gue gak tau segimana galaknya apih gue, karena beliau wafat saat gue umur 3 tahun di usia 57 tahun. Ya, apih jauh lebih tua dari mama, terpaut sekitar 20 tahunan. Apih meninggal karena livernya sudah rusak parah, akibat merokok dan kopi yang berlebihan dan doi seorang workaholic.

Beberapa waktu kemarin, seperti rutinitas sebelum-sebelumnya yaitu menelpon atau pun video call dengan Mamah. Berawal dari curhat soal pekerjaan, dan juga cerita bahwa gue udah punya seseorang (lagi), cerita tentang keluarga, sampe cerita tentang kesulitan yang sedang dihadapi keluarga kita saat ini. Dari dulu jarang banget gue cerita soal pacar, karena dulu mamah sempet nentang (eh bukan nentang sih, lebih tepatnya kurang suka dengan pacar sebelum gue yang berbeda suku, dengan alasan yang menurut gue mengada-ngada, dan yaudahlah ya sampai DELAPAN TAHUN gue gak pernah bahas sedikitpun tentang si pria di masa lalu itu).

Terceletuklah mama bersabda: (aposeeeee...)

“Neng, lihat teteh-teteh dan aa kamu yang sudah berumah tangga, setidaknya saat mereka ada ujian, mereka akan hadapi dengan pasangannya baik itu sulit maupun senang, they had someone to depend and rely on… " (aslinya sih versi sunda wkwkwk)
"Mungkin saat ini kamu masih punya mama, tapi nanti kalo mama udah gak ada nanti kamu sama siapa?"
 "Mama gak pernah berhenti mendoakan kamu dapat jodoh segera, laki-laki yang bertanggung jawab terhdap keluarganya dan pastinya sayang sama kamu.”

Agak jleb sih, gue juga bercita-cita menikah muda, supaya bisa punya anak banyak anak, punya keluarga besar supaya gak kesepian, supaya gue bisa mencurahkan kasih sayang gue ke semuanya. Tapi, mungkin memang belum saatnya, manusia hanya berencana tapi tetap Allah SWT yang menentukan. Semoga segala sesuatunya disegerakan dengan seijin Allah SWT. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Honest Review #1: ELEORA Diamond Bright

Dampak positif dan negatif pengaruh seni globalisasi pada mastarakat.

manusia, teknologi, sains, dan seni